Pesantren Ramadan 1447 H di Sumba Timur, Kemenag Perkuat Ketahanan Moral Generasi Muda di Tengah Bahaya Arus Digital
Waingapu (Kemenag) --- Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumba Timur memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Pesantren Ramadan 1447 Hijriah sebagai upaya penguatan pembinaan keagamaan dan pembentukan karakter generasi muda. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan moral, meningkatkan kualitas ibadah, serta menumbuhkan kepedulian sosial peserta didik dalam menghadapi tantangan dan dinamika sosial digital yang semakin kompleks, Kamis (19/02/2026).
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sumba Timur, Huki Y.O. Wila Hida, didampingi Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Alfian H. Dahlan, menghadiri sekaligus membuka secara resmi kegiatan tersebut. Kegiatan ini turut melibatkan penyuluh agama Islam, imam masjid, guru pendidikan agama, serta tokoh masyarakat sebagai pembimbing dan pendamping spiritual peserta selama pelaksanaan kegiatan.
Dalam sambutannya, Kakan Huki Wila Hida menyatakan bahwa Pesantren Ramadan merupakan ruang strategis pembentukan karakter yang terarah, terukur, dan berkelanjutan. Menurutnya, proses pembinaan harus menyentuh dimensi spiritual, intelektual, emosional, dan sosial peserta didik secara seimbang.
“Pembinaan keagamaan di bulan Ramadan harus menghasilkan perubahan perilaku yang konkret, terlihat pada meningkatnya kualitas ibadah, terbentuknya etika sosial, tumbuhnya empati, serta menguatnya tanggung jawab personal. Inilah fondasi utama ketahanan moral generasi muda di tengah tekanan pergaulan bebas dan derasnya arus informasi digital,” katanya.
Ia menjelaskan, tantangan sosial yang dihadapi generasi muda saa ini semakin kompleks. Paparan konten digital yang tidak terfilter, keterbatasan akses pembinaan keagamaan yang berkualitas, serta melemahnya kontrol sosial di lingkungan keluarga dan masyarakat berpotensi memicu degradasi nilai. Kondisi tersebut menuntut kehadiran aktif negara bersama seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan pola pembinaan yang kontekstual, inklusif, dan solutif.
Sementara itu, Kepala Seksi Bimas Islam, Alfian H. Dahlan, menyampaikan bahwa keterlibatan penyuluh agama dan imam masjid merupakan bagian dari strategi penguatan pendampingan berkelanjutan bagi peserta.
“Kami memastikan peserta tetap mendapatkan bimbingan setelah kegiatan berakhir. Penyuluh dan imam masjid berperan sebagai mentor yang mendampingi praktik ibadah, pembinaan akhlak, serta penguatan moderasi beragama di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Menurut Alfian, pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu membangun ekosistem pembinaan keagamaan berbasis komunitas, sehingga pembentukan karakter generasi muda berlangsung secara konsisten dan berkesinambungan.
Melalui kegiatan Pesantren Ramadan 1447 H, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Timur menegaskan komitmennya dalam membina generasi muda yang religius, berakhlak mulia, toleran, serta adaptif terhadap dinamika sosial dan perkembangan teknologi. Program ini menjadi bagian dari strategi berkelanjutan pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing, khususnya di wilayah kepulauan dan daerah periferal.
Sejalan dengan itu, rangkaian kegiatan dirancang secara terstruktur dan komprehensif, meliputi tadarus Al-Qur’an, kajian tematik keislaman berbasis isu sosial aktual, pendalaman fikih ibadah, pembiasaan salat berjamaah dan zikir, penguatan akhlakul karimah, serta penumbuhan kepedulian sosial melalui kegiatan berbagi, bakti sosial, dan gotong royong. Seluruh aktivitas tersebut diarahkan untuk membentuk kesadaran religius yang reflektif, aplikatif, dan berorientasi pada penguatan karakter peserta didik.
Pewarta : AT
Foto : Ansari
Editor : Luisa