Gambaran 'Guru Inovatif'
Kualitas pendidikan, setidaknya dapat diukur dari berbagai faktor. Salah satu di antaranya adalah kualitas guru (pendidik). Untuk mengukur keberhasilan tugas seorang guru, tentu tidak hanya sebatas hasil uji kompetensi Guru. Lebih dari itu, dalam pribadi seorang guru ada sosok yang diyakini mampu menggali, menemukan, dan mengelola berbagai potensi yang berkaitan dengan kemampuan intelektual, nilai, sikap, serta 'life skills' anak didiknya menuju kedewasaan.
Supriyono, M. Pd.I (2011) penulis buku "Guru Profesional Pembina Moral", menegaskan, peran guru sangat vital bagi pembentukan kepribadian, cita-cita, dan visi misi yang menjadi impian hidup anak didiknya di masa depan. Dibalik kesuksesan murid, selalu ada guru yang memberikan inspirasi dan motivasi besar pada dirinya sebagai sumber stamina dan energi untuk selalu belajar dan bergerak mengejar ketertinggalan, menggapai kemajuan, menorehkan prestasi spektakuler, dan prestisius dalam panggung sejarah kehidupan manusia.
Di sinilah urgensi melahirkan guru-guru berkualitas yang mampu membangkitkan semangat besar dalam diri anak didik untuk menjadi aktor perubahan peradaban dunia di era global ini. Menurut Guru Pendidikan Agama Kristen SD. GMIT Kefamenanu 4, Kabupaten Timor Tengah Utara ini, kalau guru-guru — yang berinteraksi langsung dengan anak didik - kurang profesional, tidak kreatif, dan tidak produktif, maka anak didik akan lahir sebagai kader penerus bangsa yang malas, suka mengeluh, dan pesimis dalam menghadapi masa depan serta selalu kalah dalam persaingan global. Tidak ada etos dan spirit perjuangan yang membara dalam dadanya. Ia lebih suka menikmati hidup yang hedonis dan konsumtif dari pada capek-capek belajar dan mengejar cita-cita mulia yang melelahkan dan membutuhkan perjalanan panjang dan berliku.
Guru berkualitas adalah guru inovatif yang mampu membangkitkan semangat besar anak didik untuk menjadi ‘agen perubahan’ dunia di era global dewasa ini. Namun ironis, dalam gegap gempita pengembangan sistem pendidikan nasional sekarang, masih ditemukan guru yang 'kebetulan' menjadi guru, bukan 'betul - betul' menjadi guru. Niat awal menjadi guru bukan didorong oleh sebuah cita-cita dan panggilan hidup untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan demi kemajuan bangsa, tetapi karena tidak adanya pekerjaan lain.
Fenomena inilah sering ditujukan kepada kaum guru. Tak terkecuali Doni Koesoema (Kompas, 29/7/2006). Menurut pakar 'Pendidikan Karakter' ini, peningkatan dan pengembangan kapasitas guru perlu terus diupayakan. Sebaik apapun kurikulum, jika guru tidak diberdayakan, hasilnya tetap tidak berdampak baik pada mutu pendidikan. Doni berpendapat, persoalan utama belum optimalnya pelaksanaan pendidikan di Indonesia terletak pada guru. "Mengembangkan mutu guru tak hanya dengan pelatihan-pelatihan, tetapi harus ada juga reformasi pembelajaran di kelas dan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Sistem sekolah yang ada pun tidak kalah penting untuk diberdayakan. Bob Samples menegaskan, sekolah masa kini adalah sekolah yang terlalu dipengaruhi secara kuat oleh teori 'behaviorisme'. Sekolah yang hanya dijadikan tempat "perakitan" pikiran dan raga siswa sesuai dengan "blue print" yang telah ditetapkan. Paradigma ini melahirkan sebuah sistem sekolah yang kaku, dogmatis, searah, pasif, dan tertutup.
Sekolah harus berusaha untuk tidak lagi menerapkan keterampilan - keterampilan abad ke - 19 yang menghamba pada masyarakat industri. Sebaliknya, sekolah harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang timbul pada zaman informasi sekarang. Faktor utama sekolah adalah mempersiapkan anak agar dapat mengatasi apa yang tidak diketahui bukan apa yang telah diketahui.
Dalam proses pembelajaran, guru harus berinovatif. Guru inovatif yaitu guru yang memiliki gagasan-gagasan baru yang didasari berbagai pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang diaktualisasikan dalam berbagai tugas pembelajaran, seperti inovasi terhadap bahan ajar, metode pembelajaran, sarana/media pembelajaran, evaluasi belajar, serta relasi edukasi guru dan anak didik. Dengan guru inovatif, proses belajar-mengajar menjadi bergairah, menarik, dan dinamis. Dengan demikian, proses pembelajaran akan semakin menyenangkan.
Tidaklah mudah mendapatkan guru inovatif. Karena lazimnya, para guru yang lebih 'nyaman' mengajar dengan gaya khatib; berceramah - dengan peserta didik diminta mendengarkan baik - baik. Ketika sang guru tidak bisa mengajar karena ada keperluan, peserta didik hanya ditinggalkan dengan perintah : "kerjakan LKS halaman sekian dan kumpulkan." Disini, lembar kerja siswa betul-betul menjadi bahan kerjaan anak agar tidak ribut di kelas atau bermain ke luar kelas. Nah! Jika selalu begini kondisinya, lantas apa yang bisa kita harapkan dari para anak didik itu? Selain hanya keluhan banyaknya tugas dari guru-gurunya! Memang, kondisi belajar-mengajar demikian sudah banyak berkurang karena kesadaran guru untuk bersikap profesonal dalam mendidik sebagai konsekuensi dari guru bersertifikasi. Yang tidak atau belum bersertifikasi?
Perkembangan pesat teknologi informasi saat ini turut menumbuhkan tantangan tersendiri bagi guru. Mengingat, guru sudah bukan lagi satu-satunya sumber informasi sehingga muncul pendapat bahwa pendidikan bisa berlangsung tanpa guru. Hal ini benar jika pendidikan diartikan sebagai proses memperoleh pengetahuan. Namun, perlu diingat, bahwa pendidikan juga adalah media pendewasaan, maka prosesnya tidak dapat berlangsung tanpa guru. Menurut Prof. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D., pakar pendidikan Universitas Negeri Malang, yang dikutip Jamal Mamur Asmani (2016) ada 7 kriteria guru ideal (inovatif), antara lain :
- Guru yang memahami benar profesinya;
- Guru yang rajin membaca dan menulis;
- Guru yang sensitif dengan waktu;
- Guru yang kreatif dan inovatif;
- Guru yang memiliki 5 kecerdasan;
- Guru yang dapat menjadi teladan dan dapat memberi contoh melalui perbuatan;
- Guru yang memiliki tanggung jawab sosial.
Hal yang tidak kalah penting, 'guru inovatif' juga harus dapat membagi waktu dengan baik, rajin membaca, banyak menulis, dan gemar melakukan penelitian. Sebab, mereka harus mampu menjadi panutan dan selalu memberikan keteladanan. Ilmunya seperti mata air yang tak pernah habis. Semakin diambil semakin jernih airnya, mengalir bening, dan menghilangkan rasa dahaga bagi siapa saja yang meminumnya.
Dari beberapa pengertian itu, guru inovatif/ideal adalah:
1) guru yang memahami benar profesinya;
2) guru yang rajin membaca, meng-‘up date’ ilmunya, serta rajin menulis; 3) guru yang sensitif terhadap waktu;
4) guru yang kreatif dan inovatif.
Guru kreatif - inovatif adalah guru yang selalu bertanya kepada dirinya, apakah ia sudah menjadi guru yang baik dan mengagumkan? Apakah sudah mendidik dengan benar dan baik? Apakah muridnya mengerti pelajaran yang ia sampaikan? Ia selalu melakukan introspeksi dan memperbaiki diri, merasa kurang dalam proses pembelajaran, tidak pernah puas dengan apa yang ia lakukan, dan selalu ada inovasi baru yang diciptakan dalam proses pembelajarannya. Begitulah potret 'guru inovatif', yang dibutuhkan dunia pendidikan nasional sekarang!*** (Marselina Tahun, S.Pd.K)