Patologi Akal, Kurikulum Cinta, dan Kredibilitas Suprastruktur
Saya begitu kagum serentak terusik oleh begitu banyak tanya dalam kepala tentang kurikulum cinta. Kekaguman itu tertuju pada kata “cinta” yang ditambahkan dalam kurikulum. Kekaguman pada kurikulum cinta tentu beralasan. Bayangkan, kita baru saja terpesona oleh kurikulum merdeka. Tak lama berselang, dalam kurikulum merdeka ditambahkan lagi dengan metode pembelajaran mendalam atau yang familiar disebut deep learning itu. Ada apa dengan cinta? Ini satu pertanyaan di antara sejumlah pertanyaan yang ada dalam kepala.
Untuk kepentingan tulisan ini, pembacaan saya atas terminologi kurikulum cinta saya ringkaskan pada dua asumsi berikut yang saya anggap cukup argumentatif sebagai substansi dari pemikiran ini. Pertama, cinta adalah bahasa etik universal yang mencerminkan sebuah nilai dasar yang perlu meresapi semua ilmu. Kedua, cinta menegaskan elemen terpenting dalam diri manusia atau yang saya sebut suprastruktur, di samping sains dan teknologi.
Saya mengajukan dua asumsi di atas sebagai data untuk mengkritisi beberapa simpul dari tujuan pendidikan atau sekolah -yang sering kita dengar- seperti terungkap dalam anggapan “sekolah untuk menjadi ilmuwan atau orang pintar, atau pun ahli.” Dari perspektif kurikulum cinta, menjadi ilmuwan saja tidak cukup, menjadi ahli saja tidak cukup. Hari ini Ilmuwan dan ahli produk institusi pendidikan sangat perlu dibekali dengan tanggung jawab etik yaitu cinta, bela rasa, solidaritas, juga compassio.
Ilmuwan dan Patologi Akal
Penemuan dan penerapan teknologi yang kian canggih sekilas memang menaruh kesan membantu dan memberi kemudahan bagi manusia. Dalam sekian banyak penemuan yang mengawali sebuah mazhab modernitas, ahli dan ilmuwan dipuja dan dipuji. Pujian bagi mereka sangat beralasan, sebab dengan penemuan pelbagai pesawat baik yang sederhana maupun yang canggih, manusia sangat terbantu untuk hidup lebih baik. Penemuan pelbagai vaksin misalnya sangat membantu manusia bertahan hidup dan membangun peradaban dari abad ke abad.
Di seberang euforia atas penemuan itu, langkah-langkah ilmiah para ilmuwan saat ini juga berbahaya dan terus meresahkan. Salah satu hal yang meresahkan dunia saat ini adalah persaingan global dalam bentuk perlombaan senjata. Negara-negara yang memiliki senjata Nuklir kian disegani dan terlibat langsung maupun tidak langsung dalam konflik geopolitik. Dalam sejarah dunia, kedahsyatan senjata ini telah menaklukan Jepang sang raksasa Asia pada era perang dunia II. Bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki menjadi peristiwa kelam. Penemuan dan penerapan teknologi canggih yang memusnahkan manusia secara massal itu adalah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Dan kini, kepemilikan senjata nuklir ini boleh jadi salah satu tameng ekspansi, eskalasi konflik, dan perebutan sumber daya di bumi yang tidak memperhitungkan kemanusiaan dan alam lingkungan. Akal budi manusia dalam hal ini telah menancapkan satu klaim absolut terhadap ciptaan yang lain (anthroposentrik).
Sisi buruk sains dan penerapan teknologi yang tidak terbatas ini menjadi alamat kritik dari para pemikir humanisme dan juga religius. Mendiang Yoseph Ratzinger (2006) merupakan salah satu tokoh religius dan teolog pemikir yang menyerukan pengawasan terhadap penerapan teknologi yang bias dengan sejumlah eksplorasi yang mengabaikan dan merendahkan martabat manusia itu sendiri. Menurutnya, semua aplikasi teknologi yang merusak dan mengancam kehidupan yang sejati merupakan sebentuk arogansi akal yang terpapar penyakit (patologi). Hal itu, lanjutnya, bukanlah bualan para moralis, sebab akibat dari penerapan teknologi yang merusak dan mengancam kehidupan telah terpikirkan oleh para ilmuwan, namun mereka tidak memperdulikannya. Ketika manusia tidak memperhatikan batas-batas etik tindakannya, maka sesungguhnya manusia sedang berada dalam kekuasaan diktatur relativisme, salah satunya adalah diktatur ilmu pengetahuan dan teknologi (bdk. Kleden-Sunarko, 2010).
Atas sejumlah keprihatinan di atas, hari ini kredibilitas akal dalam rupa-rupa aplikasinya yang bebas dari batasan etik bukan hanya terus dipertanyakan, juga sangat perlu untuk dikawal. Agama sebagai basis moral adalah salah satu potensi yang bisa ditawarkan untuk mengingatkan serba bebasnya petualangan akal manusia yang berujung pada perusakan dirinya sendiri, merusak sesamanya, merusak alam, dan tentunya menodai Allah sebagai penciptanya.
Kurikulum Cinta dan Kredibilitas Suprastruktur
Patologi akal adalah bahasa lain dari dehumanisasi. Sebuah fenomena di mana ilmu dikrangkeng pada ratio yang instrumental oleh segelintir ahli, ilmuwan, dan orang pintar. Karena itu, tuduhan kepada penguasaan ilmu sebagai alat penindasan dalam konteks ini mempunyai alasan yang cukup.
Saat ini kita bagian dari tatanan global, bagian dari persoalan-persoalan kemanusiaan global. Orang-orang pintar yang segera jadi demagog, ahli yang minim tanggung jawab etik, pemuka agama yang klaim kebenaran sepihak, semua itu bukan lagi dongeng liberalisme yang tidak terbendung. Fenomena itu sudah ada di sekitar kita, dan harus diakui dan diterima, bahwa segelintir yang disebutkan itu adalah produk pendidikan atau sekolah.
Maka, persoalan global itu boleh menjadi pisau korektif untuk melihat lebih terang fenomena generasi sekolah kita, melihat lebih dalam cara kita mengajar dan memberikan teladan, melihat bagaimana sekolah sungguh menjadi basis yang mempersiapkan manusia untuk mengabdi kepada kemanusiaan. Saya kira ini sebagian dari dasar kuat mengapa kurikulum cinta itu sedemikian mendesak untuk diimplementasikan, terkhusus dalam sekolah-sekolah bernafas agama.
Kemanusiaan merupakan spritualitas atau roh yang menjadi keyakinan dari Menteri Agama kita Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar. Sebelum menjabat sebagai menteri Agama, beliau selalu menggaungkan spirit itu “humanity is only one” yang berarti “kemanusiaan itu hanya satu.” Dan ketika hari ini beliau menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia, keyakinan ini dilihat sebagai prospek untuk menyokong kemanusiaan dan harus meresapi institusi pendidikan sebagai agen sosialisasi pelbagai nilai. Bahasa etik universal yang diajarkan adalah cinta.
Cinta merupakan bagian yang inheren dari maklhuk yang bernama manusia. Oleh karenanya, cinta tidak boleh dihayati sebagai romantisme sempit -hubungan antar kekasih, klan, kelompok, agama, daerah- atau hanya sebagai narasi alternatif yang sehat tapi momental. Cinta melampaui semua sekat itu, sebab semua manusia memilikinya dan membutuhkannya. Kemanusiaan akan selalu mendapat tempat dalam peradaban kalau manusia dididik untuk menerima dasar adanya dalam cinta.
Tentang kekuatan cinta, mendiang Paus Benediktus VI mengutip pandangan Blaise Pascal seorang pemikir filsafat dan agama, “cinta memang tidak berarti dalam dunia budi, rasio ilmiah, karena ia tidak dapat dibuktikan secara ilmiah dan tidak menyumbangkan apapun untuk ilmu itu. Namun, hanya dengan satu gerakan cinta lebih besar efeknya daripada seluruh tata budi, karena justru cinta itu merupakan kekuatan kreatif, yang menghidupkan dan menyelamatkan” (Kircberger, 2005).
Dalam implementasi kurikulum cinta kita boleh beroptimis sekaligus menaruh harapan, cinta dan kebijaksanaan yang terungkap dalam solidaritas, belas kasih, dan toleransi membawa generasi ahli dan ilmuwan kita selangkah di depan menuju kemanusiaan yang beradap. Dalam peradaban itu roh cinta menggerakan kita agar keluar dari diri untuk mencintai sesama manusia, alam ciptaan, tanah air, dan terlebih Allah sendiri sebagai sumber cinta. Kredibiltas manusia (suprastruktur) akan selalu diterima dalam pengamalan akan cinta dan kebijaksanaan.
(Penulis: Sipri Kantus-Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabuapten Manggarai)