Ketika Nada-Nada Moderasi Menemukan Rumahnya dalam Sasando
Di sebuah pulau yang ditiup angin timur, sasando berdiri sebagai saksi sunyi tentang bagaimana perbedaan dapat bersatu menjadi musik yang menenteramkan. Setiap dawainya memikul suara sendiri, namun ketika dipetik bersama, lahirlah harmoni yang melampaui batas bunyi. Di titik inilah kita belajar bahwa keberagaman bukan ancaman melainkan anugerah yang menuntut kebijaksanaan.
Demikian pula tugas penyuluh agama: memetik setiap kepercayaan, perbedaan, dan kegelisahan masyarakat seperti dawai yang tersusun di dalam sasando. Tidak ada nada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua ditempatkan pada posisinya, dijaga ketegangannya, dihormati keberadaannya. Dan ketika semua disentuh dengan hati yang benar, terciptalah harmoni yang disebut moderasi beragama.
Dawai-Dawai Moderasi dalam Kehidupan Beragama
Moderasi bukan tentang menurunkan keyakinan, tetapi menata cara kita menghidupi keyakinan itu. Seperti dawai sasando yang tak pernah dipaksa menjadi suara lain, setiap umat dibiarkan teguh pada imannya, sembari tetap menghormati melodi iman orang di sekitarnya.
Penyuluh agama hadir untuk mengingatkan:
Bahwa agama bukan sebilah pisau untuk memotong,melainkan sebatang cahaya untuk menerangi.Bahwa keberagaman bukan sumber gaduh, melainkan sumber keindahan jika disentuh dengan kasih.
Penyuluh Agama sebagai Pemain Sasando Kehidupan
Tugas penyuluh agama hari ini semakin berat. Ia bukan hanya memproduksi kata-kata bijak, tetapi memelihara keseimbangan di tengah masyarakat yang rawan retak. Setiap kunjungan, penyuluhan, dialog, hingga senyum sederhana adalah petikan-petikan halus pada dawai sosial.
Ketika muncul perselisihan kecil, penyuluh-lah yang menata ulang nadanya.
Ketika hoaks memecah kepercayaan, penyuluh-lah yang mengembalikan kestabilan.
Ketika masyarakat terpecah oleh isu keagamaan, penyuluh-lah yang menyatukan bagian-bagian yang sumbang.
Ia tidak bekerja di panggung besar, tetapi di halaman rumah, di ruang musyawarah, di tepi pantai, dan di sela percakapan kecil antarwarga. Seperti pemetik sasando yang tekun, penyuluh agama memelihara harmoni satu persatu.
Sasando sebagai Simbol Rumah Moderasi
Bagi masyarakat Rote, sasando bukan sekadar alat musik, tetapi warisan jiwa. Ia mengajarkan bahwa keindahan hanya hadir ketika semua unsur bersedia bekerja bersama.
Begitu pula moderasi beragama:
Ia tidak meniadakan perbedaan, tetapi merangkulnya.
Ia tidak membungkam keyakinan, tetapi menuntun agar dijalani dengan bijaksana.
Ia tidak melemahkan iman, tetapi memurnikannya dari amarah dan prasangka.
Dalam sasando, bila satu dawai terlalu tegang, suara menjadi kasar. Bila terlalu kendur, melodi menjadi lemah. Moderasi adalah seni untuk menjaga “tegangan yang pas”—tidak ekstrem, tidak abai—agar kehidupan beragama tetap merdu.
Menghadirkan Moderasi dalam Era Baru
Di zaman ketika media sosial menjadi ruang pertemuan sekaligus medan pertempuran, penyuluh agama dituntut menjadi pemetik sasando digital. Mereka harus mengisi ruang maya dengan suara damai agar tidak kalah oleh nada-nada kebencian.
Sebuah unggahan yang bijak, sebuah klarifikasi yang menyejukkan, atau sebuah renungan yang menyentuh dapat menjadi petikan kecil yang mengubah suasana. Moderasi hidup bukan hanya di ruang ibadah, tetapi juga di layar yang kita genggam setiap hari.
Penutup: Indonesia adalah Sasando Besar yang Harus Dijaga.
Bangsa ini adalah sasando raksasa dengan ratusan dawai: suku, agama, budaya, bahasa, dan tradisi. Semuanya memiliki suaranya sendiri. Jika salah satu dawai dipetik dengan kemarahan, melodi akan pecah. Jika semuanya diperlakukan dengan hormat, Indonesia akan terus menghasilkan harmoni yang membuat dunia menoleh dan berkata: begitu indahnya perbedaan bila dikelola dengan cinta.
Penyuluh agama adalah tangan-tangan lembut yang memastikan sasando besar itu tetap bernyanyi.Mereka menjaga nada agar tidak sumbang.
Mereka memelihara harmoni agar tidak hilang.Mereka mengingatkan masyarakat bahwa moderasi bukan pilihan ringan, melainkan jalan bagi bangsa agar tetap teduh, tetap utuh, dan tetap manusiawi.Dan selama sasando masih bernyanyi di bumi Rote, semoga moderasi terus menemukan rumahnya dalam hati setiap anak bangsa.
Oleh: Elisabeth Dorkas Dethan – Penyuluh Agama Kementerian Agama Kab. Rote Ndao