Laudato Si: Legasi Paus Fransiskus Bagi Kelestarian Ekologis
Kerusakan lingkungan dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa masalah lingkungan telah mencapai tingkat yang sangat serius. Deforestasi terus menjadi bentuk pencemaran lahan yang sangat merusak, dengan luasan besar tutupan pohon yang dibabat setiap tahun untuk tujuan pertanian demi memenuhi permintaan komoditas yang terus meningkat. Pencemaran lingkungan melalui sampah plastik juga menjadi masalah yang semakin serius, dengan sekitar 150 juta ton sampah plastik yang terakumulasi di lautan dan sungai dunia pada tahun 2020. Diperkirakan sampah plastik tersebu akan berlipat ganda pada tahun 2040.
Data Forest Watch Indonesia juga mencatat: bahwa antara 2017 hingga 2021, Indonesia kehilangan 2,54 juta hektare hutan per tahun—setara dengan enam lapangan sepak bola hilang setiap menit. Ini bukan sekadar angka, tetapi alarm yang menggema dari jantung bumi. Kita sedang kehilangan warisan kehidupan.
Akar masalah lingkungan, menurut Paus, antara lain adalah akibat perubahan iklim, pencemaran dan sampah, serta kehilangan keanekaragaman hayati. Perubahan iklim dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti peningkatan suhu global, peningkatan permukaan laut, dan peningkatan bencana alam.
Pencemaran lingkungan dan masalah sampah, lahir dari tingginya budaya konsumsi dan rendahnya kesadaran ekologis. Pembuangan sampah plastik telah menciptakan lingkungan yang semakin tercemar. Pencemaran udara, air, dan tanah telah mencapai tingkat yang sangat merusak.
Krisis keanekaragaman hayati ditandai dengan deforestasi, perburuan liar, dan perubahan habitat. Ia menekankan bahwa keanekaragaman hayati adalah bagian penting dari keseimbangan ekologis.
Laudato Si menawarkan beberapa solusi dan tindakan konkret untuk mengatasi masalah lingkungan, antara lain melalui kebijakan dan regulasi, pendidikan dan kampanye kesadaran ekologis, serta melalui tindakan individu. Kebijakan pemerintah yang tegas dan terorganisir diperlukan, antara lain dengan menjatuhkan sanksi terhadap pelanggaran lingkungan. Ia menekankan bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam mengatur industri dan mempromosikan kegiatan yang ramah lingkungan.
Melalui pendidikan akan kesadaran lingkungan, dapat tercapai antara lain melalui kurikulum ekologis yang diintegrasikan dalam kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat yang paling rendah.
Kedua hal tersebut pada akhirnya mesti berujung pada tindakan individu. Paus Fransiskus mengajak setiap individu untuk mengambil tindakan konkret dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ia menekankan bahwa setiap orang dapat berkontribusi nyata dalam menciptakan dan menjaga kelestarian ekologis dengan mengurangi penggunaan plastik dan mendukung produk-produk ramah lingkungan.
Dalam beberapa kesempatan, Paus juga senantiasa mengingatkan warga bumi akan kepemilikan planet ini. Seruan kebijaksanaannya yang selalu bergema hingga saat ini hendaknya selalu menjadi pengingat kita untuk terus merawat bumi: "Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita. Kita meminjamnya dari anak cucu kita."
Buon viaggio Papa Francesco! (*)
Penulis : Patrix W. ( Bidang Pendidikan Katolik Kanwil Kemenag NTT)
Editor : Aida Ceha