Rabu, 8 Mei 2013 –
Dirjen Bimas Katolik : Tridialog Keagamaan Ciptakan Kerukunan

Bajawa (Humas) – Dalam kesempatan dialog bersama segenap jajaran kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngada, Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI menandaskan bahwa menjadi pegawai di lingkungan Kementerian Agama memiliki tanggung jawab tersendiri karena sering kali tuntutan masyarakat melebihi kemampuan. Sebagai institusi yang bekerja dalam menegakkan nilai-nilai moral, maka setiap perilaku buruk, seperti korupsi, yang dilakukan aparat Kementerian Agama akan memiliki gaung yang besar dibandingkan bila hal tersebut dilakukan oleh aparat kementerian yang lain. Oleh karena itu setiap pegawai diminta untuk senantiasa berperilaku baik dalam menjalankan tugas.

Berkaitan dengan itu, Dirjen Bimas Katolik juga meminta segenap pegawai untuk menghayati keberadaan dirinya sebagai seorang pelayan. Hal ini sejalan dengan fungsi PNS sebagai abdi masyarakat. Salah satu bentuk tugas yang mesti dilakukan oleh seorang pelayan masyarakat yang bekerja di lingkungan Kementerian Agama adalah menciptakan kerukunan hidup umat beragama. Tugas ini menjadi kewajiban yang harus diemban setiap pegawai. Menurut beliau, kerukunan bisa dibangun lewat apa saja dan salah satunya adalah dengan mengembangkan tiga model dialog yakni dialog kehidupan, dialog karya dan dialog iman.

Dalam paparannya, beliau menandaskan bahwa untuk mengembangkan dialog kehidupan, setiap orang hendaknya bukan hanya beragama tetapi juga beriman artinya setiap pribadi mesti juga mampu untuk mencintai mereka yang tidak seagama. Tak dapat dipungkiri bahwa kita ini hidup dalam keanekaan maka yang lain itu juga mesti diterima apa adanya. Orang yang tidak sealiran mesti juga dikasihi dengan kasih yang sama dan bukannya malah menjadikan agama sebagai alat yang menjauhkan satu sama lain. Berkaitan dengan dialog karya beliau mengedepankan kenyataan bahwa di dalam masyarakat ada banyak hal yang butuh perhatian dari semua pihak. Oleh karena itu, kebersamaan dan keterlibatan dalam menangani persoalan yang ada menjadi tuntutan bagi semua orang tanpa memandang latar belakang agama atau budaya. Budaya gotong-royong mesti dibangun sebagai landasan dalam melakukan membangun solidaritas dan kerja sama. Sementara cakupan dialog iman adalah setiap upaya yang dilakukan untuk memahami secara sungguh ajaran agama lain. Pemahaman yang baik akan berpotensi menghindari konflik yang terjadi. (yonsch)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.020963 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.72
Jumlah pengunjung: 388557
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.